Jumat, 01 Mei 2015
Bagaimanakah analisis pekerjaan itu ?
Bagaimanakah analisis pekerjaan
itu ?
Analisis pekerjaan terdiri atas dua kata,
analisis dan pekerjaan. Analisis merupakan aktivitas berpikir untuk menjabarkan
pokok persoalan menjadi bagian, komponen, atau unsur, serta kemungkinan keterkaitan
fungsinya. Sedangkan pekerjaan adalah sekumpulan/sekelompok tugas dan tanggung
jawab yang akan, sedang dan telah dikerjakan oleh tenaga kerja dalam kurun
waktu tertentu. Dengan demikian analisis pekerjaan dapat diartikan sebagai
suatu aktivitas untuk mengkaji, mempelajari, mengumpulkan, mencatat, dan
menganalisis ruang lingkup suatu pekerjaan secara sistematis dan sistemik
(Sastrohadiwiryo, 2002:127). Menurut Dessler (2006) analisis pekerjaan
merupakan prosedur yang dilalui untuk menentukan tanggung jawab posisi-posisi
yang harus dibuatkan stafnya , dan karakteristik orang-orang yang bekerja untuk
posisi-posisi tersebut.
Analisis
pekerjaan adalah suatu proses, sedangkan produknya adalah deskripsi jabatan,
spesifikasi jabatan, dan evaluasi jabatan. Analisis pekerjaan pada intinya
terdiri dari rangkaian sejumlah informasi yang digali melalui
pertanyaan-pertanyaan tertentu. Pertanyaan dalam analisis pekerjaan itu dapat
dirumuskan sebagai berikut :
· What :
menanyakan tentang apa yang dikerjakan pada jabatan tersebut atau tugas-tugas
apa sajakah yang terdapat pada jabatan tersebut.
· How :
terkait dengan informasi tentang bagaimana mengerjakan pekerjaan atau
tugas-tugas dalam jabatan tersebut atau terkait dengan cara/ prosedur
pelaksanaan tugas.
· Why :
menyangkut penggalian informasi tentang mengapa tugas-tugas dalam jabatan tersebut
dilakukan atau untuk tujuan apa tugas-tugas tersebut dikerjakan.
· Skill
involved : kecakapan/ kepandaian/ ketrampilan apakah yang diperlukan untuk
melakukan pekerjaan/ tugas-tugas tersebut.
2. Tujuan
Analisis Pekerjaan
Sedangkan
menurut Sastrohadiwirjo mengatakan bahwa tujuan analisis pekerjaan yaitu: (1)
memperoleh tenaga kerja pada posisi yang tepat, (2) memberikan kepuasan pada
diri tenaga kerja, (3) menciptakan iklim dan kondisi kerja yang kondusif
(Sastrohadiwiryo).
Menurut
Gomes (2003;92) Ada 12 tujuan analisis pekerjaan yang digunakan oleh sektor
publik maupun sektor swasta, yaitu:
1. Job
description,yaitu untuk mengidentifikasikan pekerjaan, riwayat pekerjaan,
kewajiban-kewajiban pekerjaan, dan pertanggung jawaban, serta untuk mengetahui
spesifikasi pekerjaan atau informasi mengenai standar pekerjaan.
2. Job
classification, yaitu penyusunan pekerjaan-pekerjaan kedalam kelas-kelas,
kelompok-kelompok, atau jenis-jenis berdasarkan rencana sistematika tertentu
3. Job
evaluation, yaitu suatu prosedur pengklasifikasian pekerjaan berdasarkan
kegunaan masing-masing di dalam organisasi dan dalam pasar tenaga kerja luar
yang terikat
4. Job
desinng restructuring, yaitu meliputi usaha-usaha untuk mengalokasikan dan
merestrukturisasi kegiatan pekerjaan kedalam berbagai kelompok
5. Personel
requirement, yaitu berupa persyaratan atau spesifikasi tertentu bagi
suatu pekerjaan
6. Performance
appraisal, yaitu merupakan penilaian sistematis yang dilakukan oleh supervisor
terhadap performansi pekerjaan dari para pekerja
7. Worker
training, yaitu pelatihan yang ditujukan kapada para pekerja
8. Worker
mobility, yaitu dinamika keluar-masuknya seseorang dalam posisi,
perkerjaan-pekerjaan, dan okupasi-okupasi tertentu
9. Efficiency,
ini mencangkup penggabungan proses kerja yang optimal dan rancangan keamanan
dari peralatan dan fasilitas, serta prosedur kerja, susunan kerja dan standar
kerja
10. Safety,
berfokus pada identifikasi dan peniadaan perilaku kerja yang tidak aman,
kondisi fisik dan kondisi lingkungan
11. Human
resource planning, kegiatan antisipasi dan reaktif melalui suatu organisasi
12. Legal,
aturan dan ketentuan lain yang berkaitan dengan organisasi.
3. Metode Analisis Pekerjaan
Pertanyaan
berikutnya adalah bagaimana metode yang digunakan dalam menganalisis pekerjaan?
Menurut Sastrohadiwiryo (2002), metode yang biasa digunakan dalam analisis
pekerjaan adalah metode kuesioner, metode wawancara, metode pencatatan rutin,
dan metode observasi,
Metode
kuesioner digunakan sebagai alat pengumpul data secara tertulis dibagikan
kepada tenaga kerja operasional atau para kepala departemen, untuk mengisi
keterangan dan fakta yang diharapkan. Pada umumnya kuesinoer memuat (1)
pertanyaan mengenai pekerjaan yang dilakukan, (2) tanggung jawab yang
diberikan, (3) kecakapan, keahlian, atau pelatihan yang diperlukan, (4) kondisi
yang diharapkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, dan (5) figur atau jenis
yang diperlukan untuk pekerjaan tersebut.
Metode
wawancara dilakukan denga tenaga kerja operasional atau dengan kepala
departemen mereka, dan dapat juga dengan kedua-duanya. Di samping itu, para
penyelia sering ditugaskan untuk memperoleh data analisis pekerjaan. Keuntungan
dari metode ini adalah penyajian keterangan dan fakta dari pihak pertama. Namun
metode ini sangat membutuhkan waktu yang cukup lama.
Metode
selanjutnya yang dapat digunakan dalam analisis data yaitu metode pencatatan
rutin. Dalam metode ini, tenaga kerja diperintahkan mencatat hal yang
dikerjakan tiap hari secara rutin, alokasi yang dibutuhkan, saat dimulai dan
saat akhir tiap-tiap tugas itu dilakukan. Alokasi waktu yang lama, dan pengerjaan
yang cermat dan rutin merupakan kelemahan dari metode ini.
Metode observasi pada umumnya dilakukan
oleh job analyst yang sebelumnya memperoleh pelatihan dan upgrading secara
khusus. Metode observasi biasanya tidak dilakukan bersamaan dengan metode
wawancara job analyst mengadakan
observasi terhadap masing-masing pekerjaan dan mengadakan wawancara dengan
tenaga operasional serta kepala departemen mereka.
Daftar
Pustaka
1. Dessler,
Gary. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Indeks.
2. Bintari,
2012, Analisis Pekerjaan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia dalam http://rantingbahasa.blogspot.com/2012/12/analisis-pekerjaan-dalam-manajemen.html
3. Yusrizalfirzal,
2011, Analisis Pekerjaan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia dalam https://yusrizalfirzal.wordpress.com/2011/06/21/analisis-pekerjaan-dalam-manajemen-sumber-daya-manusia/
4. Fadlan,
Analisis dan Racangan Pekerjaan dalam https://www.academia.edu/4982681/ANALISIS_and_RANCANGAN_PEKERJAAN
5. Nenden,
2012, Analisis Pekerjaan dalam http://denzyank.blogspot.com/2012/08/analisis-pekerjaan_1934.html
Jumat, 03 April 2015
Desain Pekerjaan
1. Pengertian desain Pekerjaan
Desain pekerjaan atau job design
merupakan faktor penting dalam manajemen terutama manajemen operasi karena
selain berhubungan dengan produktifitas juga menyangkut tenaga kerja yang akan
melaksanakan kegiatan operasi perusahaan.
Desain pekerjaan adalah suatu alat
untuk memotivasi dan memberi tantangan pada karyawan. Oleh karena itu
perusahaan perlu memiliki suatu sistem kerja yang dapat menunjang tercapainya
tujuan perusahaan secara efektif dan efisien yang dapat merangsang
karyawan untuk bekerja secara produktif, mengurangi timbulnya rasa bosan dan
dapat meningkatkan kepuasan kerja, desain pekerjaan terkadang
digunakan untuk menghadapi stress kerja yang dihadapi karyawan. Desain
pekerjaan adalah rincian tugas dan cara pelaksanaan tugas atau kegiatan yang
mencakup siapa yang mengerjakan tugas, bagaimana tugas itu dilaksanakan, dimana
tugas dikerjakan dan hasil apa
yang diharapkan. menambahkan desain pekerjaan adalah fungsi penetapan kegiatan kerja seorang atau sekelompok karyawan secara organisasional. Tujuannya untuk mengatur penugasan kerja supaya dapat memenuhi kebutuhan organisasi.
yang diharapkan. menambahkan desain pekerjaan adalah fungsi penetapan kegiatan kerja seorang atau sekelompok karyawan secara organisasional. Tujuannya untuk mengatur penugasan kerja supaya dapat memenuhi kebutuhan organisasi.
Tujuannya adalah untuk mengatur
penugasan-penugasan kerja yangmemenuhi kebutuhan-kebutuhan
organisasi,tekhnologi dan keperilakuan
2. Unsur-Unsur Desain Pekerjaan
Handoko (2000) menjelaskan unsur-unsur
desain pekerjaan meliputi unsur organisasi, unsur lingkungan dan unsur
perilaku.
1.
Unsur Organisasi
Unsur lingkungan menyangkut tersedianya
tanaga kerja yang potensial. Unsur organisasi menurut Handoko (2000) mempunyai
kaitan erat dengan desain pekerjaan yang efisien untuk mencapai output maksimum
dari pekerjaan pekerjaan karyawan. Dengan adanya efisiensi di dalam pelaksanaan
kerja akan menentukan spesialisasi yang merupakan kunci dalam desain pekerjaan.
Karyawan yang melakukan pekerjaan secara kontinyu menyebabkan karyawan
terspesialisasi yang selanjutnya dapat memperoleh output lebih tinggi.
Unsur organisasi terdiri dari :
a. Pendekatan mekanik berupaya
mengidentifikasi setiap tugas dalam suatu pekerjaan guna meminimumkan waktu dan
tenaga. Hasil pengumpulan identifikasi tugas akan menentukan spesialisasi.
Pendekatan ini lebih menekankan pada faktor efisiensi waktu, tenaga, biaya, dan
latihan.
b. Aliran kerja dipengaruhi oleh sifat
komoditi yang dihasilkan oleh suatu organisasi atau perusahaan guna menentukan
urutan dan keseimbangan pekerjaan.
c. Praktek–praktek kerja yaitu pelaksanaan
pekerjaan yang ditetapkan, ini bisa berdasarkan kebiasaan yang berlaku dalam
perusahaan, perjanjian atau kontrak serikat kerja karyawan.
2. Unsur perilaku
Unsur perilaku menurut Sondang (2003)
perlu diperhitungkan dalam mendesain pekerjaan.
Unsur perilaku tersebut terdiri dari :
a. Otonomi bertanggung jawab atas apa yang
dilakukan. Bawahan diberi wewenang untuk mengambil keputusan atas pekerjaan
yang dilakukan.
b. Variasi merupakan pemerkayaan pekerjaan
yang bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan atas pekerjaan yang rutin,
sehingga kesalahan – kesalahan dapat diminimalkan.
c. Identitas tugas untuk memepertanggungjawabkan
pelaksanaan tugas dan pekerjaan, maka pekerjaan harus diidentifikasikan,
sehingga kontribusinya terlihat yang selanjutnya akan menimbulkan kepuasan.
d. Umpan balik diharapakan pekerjaan yang
dilakukan oleh karyawan mempunyai umpan balik atas pelaksanaan pekerjaan yang
baik, sehingga akan memotivasi pelaksanaan pekerjaan selanjutnya.
3.
Unsur Lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi desain
pekerjaan adalah tersedianya tenaga kerja yang potensial, yang mempunyai
kemampuan dan kualifikasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan
pengharapan – pengharapan sosial, yaitu dengan tersedianya lapangan kerja serta
memperoleh
kompensasi dan jaminan hidup yang layak
(Handoko, 2000)
3. Manfaat Desain Pekerjaan
Desain pekerjaan merupakan faktor penting
dalam manajemen terutama manajemen operasi karena selain berhubungan dengan
produktifitas juga menyangkut tenaga kerja yang akan melaksanakan kegiatan
perusahaan (Sulipan, 2000). Desain pekerjaan mutlak dimiliki oleh setiap perusahaan
karena dalam desain pekerjaan yang dilakukan adalah merakit sejumlah tugas
menjadi sebuah pekerjaan agar pekerjaan yang dilakukan menjadi terarah dan
jelas.
Menurut (Sunarto, 2005) desain pekerjaan
memiliki tujuan agar :
1. Efisiensi operasional, produktifitas
dan kualitas pelayanan menjadi optimal.
2. Fleksibilitas dan kemampuan
melaksanakan proses kerja secara horizontal dan hirarki.
3. Minat, tantangan, dan prestasi menjadi
optimal.
4. Tanggung jawab tim ditetapkan
sedemikian rupa, sehingga bisa meningkatkan kerja sama dan efektifitas tim.
5. Integrasi kebutuhan individu karyawan
dengan kebutuhan organisasi.
Daftar Pustaka
1.
Halimah, 2012, Manajemen SDM : Ringkasan
Materi kuliah MSDM dalam : https://www.academia.edu/7556352/Manajemen_SDM_Ringkasan_Materi_Kuliah_MSDM
2.
Fatahillah, 2013, Makalah Startegy SDM dan
Desain Kerja dalam : http://infofahil.blogspot.com/2014/08/strategi-sumber-daya-manusia-dan-desain.html
3.
Meta, 2013, Analisis dan desain Pekerjaan,
dalam http://ema301.weblog.esaunggul.ac.id/2012/11/06/analisis-desain-pekerjaan/
4.
Zieta, 2012, Desain pekerjaan dan analisis
pekerjaan dalam https://www.academia.edu/5165031/Pertemuan-4-Desain-Pekerjaan-dan-Analisis-Pekerjaan
6.
Reza, Pengertian Desain Pekerjaan, dalam http://hiddengrazz.blogspot.com/2012/04/pengertian-desain-pekerjaan-pendahuluan.html
PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN
Setelah melewati proses seleksi dan mendapatkan karyawan yang
sesuai criteria dari perusahaan, maka perusahaan akan melakukan kegiatan yang
namanya pelatihan (training). Dimana, pelatihan ini berfungsi untuk
mengembangkan/peningkatan kualitas dari si karywan tersebut.
1.
Pengertian Pelatihan
Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang
melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan
kinerja tenaga kerja.(Simamora:2006:273). Menurut pasal I ayat 9 undang-undang
No.13 Tahun 2003. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi,
memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas,
disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu
sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan, sedangkan menurut
(Hani Handoko:2001:104) pengertian latihan dan pengembangan adalah berbeda.
Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan
berbagal ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin.
Yaitu latihan rnenyiapkan para karyawan (tenaga kerja) untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan sekarang. Sedangkan pengembangan (Developrnent) mempunyai
ruang lingkup Iebih luas dalam upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan
pengetahuan, kemampuan, sikap dlan sifat-sifat kepribadian.
2.
Jenis
Pelatihan dan Pengembangan
Terdapat banyak pendekatan untuk pelatihan. Menurut
(Simamora:2006 :278) ada lima jenis-jenis pelatihan yang dapat diselenggarakan:
1. Pelatihan
Keahlian
Pelatihan keahlian (skils training) merupakan pelatihan
yang sering di jumpai dalam organisasi. program pelatihaannya relatif sederhana:
kebutuhan atau kekuragan diidentifikasi rnelalui penilaian yang jeli. kriteria
penilalan efekifitas pelatihan juga berdasarkan pada sasaran yang
diidentifikasi dalam tahap penilaian.
2. Pelatihan
Ulang.
Pelatihan ulang (retraining) adalah subset pelatihan
keahilan. Pelatihan ulang berupaya memberikan kepada para karyawan
keahlian-keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi tuntutan kerja yang
berubah-ubah. Seperti tenaga kerja instansi pendidikan yang biasanya bekerja
rnenggunakan mesin ketik manual mungkin harus dilatih dengan mesin computer
atau akses internet
3. Pelatihan
Lintas Fungsional.
Pelatihan lintas fungsional (cros fungtional training)
melibatkan pelatihan karyawan untuk melakukan aktivitas kerja dalam bidang
lainnya selain dan pekerjan yang ditugaskan.
4. Pelatihan
Tim.
Pelatihan tim merupakan bekerjasarna terdiri dari
sekelompok Individu untuk menyelesaikan pekerjaan demi tujuan bersama dalam
sebuah tim kerja.
5. Pelatihan
Kreatifitas.
Pelatihan kreatifitas(creativitas training) berlandaskan
pada asumsi hahwa kreativitas dapat dipelajari. Maksudnya tenaga kerja
diberikan peluang untuk mengeluarkan gagasan sebebas mungkin yang berdasar pada
penilaian rasional dan biaya dan kelaikan.
3.
Perbedaan
Pelatihan dengan Pengembangan
Adapun perbedaan antara pelatihan dan pengembangan menurut
(Syafaruddin:2001 :217).
a.
Pelatihan.
Tujuan: Peningkatan
kemampuan individu bagi kepentingan jabatan saat ini.
Sasaran: Peningkatan
kinerja jangka pendek.
Orientasi: Kebutuhan
jabatan sekarang.
Efek
terhadap karir: Keterkaitan dengan karir relatif rendah.
b.
Pengembangan.
Tujuan:
Peningkatan kemampuan individu bagi kepentingan jabatan yang akan datang.
Sasaran:
Peningkatan kinerja jangka panjang.
Orientasi:
Kebutuhan perubahan terencana atau tidak terencana.
Efek
terhadap karir: Keterkaitan dengan karir relatif tinggi.
4.
Tujuan
pelatihan dan pengembangan
Tujuan diselenggarakan pelatihan dan pengembangan kerja
menurut (Simamora:2006:276) untuk membekali, meningkatkan, dan mengembangkan
kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan.
Adapun tujuan-tujuannya sebagai berikut:
1. Memperbaiki kinerja karyawan-karyawannya yang bekerja
secara tidak memuaskan karena kekurangan keterampilan merupakan calon utama
pelatihan, kendatipun tidak dapat memecahkan semua masalah kinerja yang
efektif, progaram pelatihan dan pengembangan yang sehat sering berfaedah dalam
meminimalkan masalah ini.
2. Memuktahirkan keahlian para karyawan sejalan dengan
kemajuan teknologi. Melalui pelatihan, pelatih memastikan bahwa karyawan dapat
megaplikasikan teknologi baru secara efektif. Perubahan teknologi pada
gilirannya, berarti bahwa pekerjaan senantiasa berubah dan keahlian serta
kemampuan karyawan haruslah dimuktahirkan melalui pelatihan, sehingga kemajuan
teknologi dapat diintgrasikan dalam organisasi secara sukses.
3. Mengurangi waktu pembelajaran bagi karyawan baru agar
kompoten dalam pekerjaan. Seorang karywan baru acap kali tidak menguasai
keahlian dan kemampuan yang dibutukan untuk menjadi ”job comotent” yaitu
mencapai output dan standar mutu yang diharapkan.
4. Membantu memecahkan msalah orperasional. Para manejer
harus mencapai tujuan mereka dengan kelangkaan dan kelimpahan suber daya:
kelangkaan sumberdaya finansial dan sumberdaya teknologis manusia (human
tecnilogical resourse), dan kelimpahan masalah keuangan, manusia dan
teknologis.
5. Mempersiapkan karyawan untuk promosi satu cara untuk
menarik, menahan, dan memotivasi karyawan adalah melalui program pengembangan
karir yang sistematis. Pengembangan kemampuan promosional karyawan konsisten
dengan kebijakan sumberdaya manusia untuk promosi dari dalam: pelatihan adalah
unsur kunci dalam sistem pengembangan karir. Dengan secara berkesinambungan
mengembangkan dan mempromosikan semberdaya manusianya melalui pelatihan,
manejer dapat menikmati karyawan yang berbobot, termotivasi dan memuaskan.
6. Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi, karena
alasan inilah, beberapa penyelenggara orientasi melakukan upaya bersama dengan
tujuan mengorientasikan para karyawan baru terhadap organisasi dan bekerja
secara benar.
7. Memenuhi kebutuhan pertumbuhan pribadi. Misalnya
sebagian besar manejer adalah berorientasi pencapaian dan membutuhkan tantangan
baru dipekerjaannya. Pelatihan dan pengembangan dapat memainkan peran ganda
dengan menyediakan aktivitas-aktivitas yang menghasilkan efektifitas
organisasional yang lebih besar dan meningkatkan pertumbuhan pribadi bagi semua
karyawan.
5. Teknik-teknik
pelatihan dan pengembangan
Program-program pelatihan dan pengembangan dirancang untuk
meningkatkan prestasi kerja, mengurangi absensi dan perputaran, serta
memperbaiki kepuasan kerja. Ada dua kategori pokok program pelatihan dan
pengembangan manajemen. (Decenzo&Robbins:1999:230):
1.
Metode praktis (on the job training)
2. Teknik-teknik
presentasi informasi dan metode-metode simulasi (off the job training)
Masing-masing kategori mempunyai sasaran pengajaran sikap
konsep atau pengetahuan dan/atau keterampilan utama yang berbeda. Dalam
pemilihan teknik tertentu untuk dugunakan pada program pelatihan dan
pengembangan, ada beberapa trade offs. Ini berarti tidak ada satu teknik yang
selalu baik: metode tergantung pada sejauh mana suatu teknik memenuhi
faktor-faktor berikut:
1. Efektivitas biaya.
2. Isi program yang dikehendaki
3. Kelayakan fasilitas-fasilitas
4. Preferensi dan kemampuan peserta
5. Preferensi dan kemampuan instruktur atau pelatih
6. Prinsip-prinsip belajar
Teknik-teknik on the job merupakan metode latihan yang
paling banyak digunakan. Karyawan dilatih tentang pekerjaan baru dengan
sepervise langsung seorang pelatih yang berpengalaman (biasanya karyawan lain).
Berbagai macam teknik ini yang bisa digunakan dalam praktek adalah sebagai
berikut:
1.
Rotasi jabatan
2.
Latihan instruksi pekerjaan
3.
Magang (apprenticeships)
4.
Coaching
5.
Penugasan sementara
Teknik-teknik off the job, dengan pendekatan ini karyawan
peserta latihan menerima representasi tiruan (articial) suatu aspek organisasi
dan diminta untuk menanggapinya seperti dalam keadaan sebenarnya. Dan tujuan
utama teknik presentasi (penyajian) informasi adalah untuk mengajarkan berbagai
sikap, konsep atau keterampilan kepada para peserta. Metode yang bisa digunakan
adalah:
1.
Metode studi kasus
2.
Kuliah
3.
Studi sendiri
4.
Program computer
5.
Komperensi
6.
Presentasi
Implementasi program pelatihan dan pengembangan berfungsi
sebagai proses transformasi. Para tenaga kerja (karyawan) yang tidak terlatih
diubah menjadi karyawan-karyawan yang berkemampuan dan berkulitas dalam
bekerja, sehingga dapat diberikan tanggungjawab lebih besar.
Daftar Pustaka :
1. Tris Susanti, 2013, Pelatihan dan
pengembangan SDM dalam : http://www.hrcentro.com/artikel/Pelatihan_Dan_Pengembangan_SDM__130603.html
2.
Febrianti mega, dkk. , 2014, Makalah
pengembangan SDM, program pelaksanaan Diklat untuk meningkatkan kualitas
karyawan dalam : http://imadiklus.com/makalah-pengembangan-sdm-program-pelaksanaan-diklat-untuk-meningkatkan-kualitas-karyawan/
3. Rep, 2013, 9 hal penting dalam
pelatihan MSDM, Dalam : http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2013/10/28/9-hal-penting-dalam-pelatihan-sdm-604405.html
4. Budiman, 2012, PELATIHAN DAN
PENGEMBANGAN SDM dalam : http://adithia14.blogspot.com/2012/06/makalah-pelatihan-dan-pengembangan-sdm.html
5.
Gusman, Manajemen Sumber Daya Manusia Diklat dan pengembangannya.
Rabu, 25 Maret 2015
SELEKSI CALON KARYAWAN
1.
Definisi
Seleksi
Seleksi
adalah serangkaian kegiatan yang digunakan untuk memutuskan apakah pelamar
diterima atau ditolak. Proses seleksi mulai dari penerimaan lamaran dan
berakhir dengan keputusan terhadap lamaran tersebut.
2 . Tujuan seleksi
1. Menjamin perusahaan memiliki
karyawan yang tepat untuk suatu jabatan/ pekerjaan.
2. Memastikan keuntungan investasi
SDM perusahaan.
3. Mengevaluasi dalam mempekerjakan
dan penempatan pelamar sesuai minat.
4. Memperlakukan pelamar secara adil
dan meminimalkan deskriminasi.
5. Memperkecil munculnya tindakan
buruk karyawan yang seharusnya tidak diterima.
3.
Proses
seleksi
a. Peyaringan
pelamar
Lamaran
kerja yang lengkap memberikan informasi awal mengenai pelamar kerja, seperti
latar belakang pendidikan, pengalaman, minat, dan posisi yang diinginkan, serta
keahlian khusus pelamar. Informasi yang relevan perlu dimasukkan untuk bahan
pertimbangan selanjutnya.
b. Tes
Tes
ditujukan untuk melihat kemampuan sebenarnya dari pelamar. Hal ini dapat pula
untuk menguji respons pelamar yang sebenarnya terhadap pekerjaan dan tugas yang
akan dijalaninya. Tes ini bisa bervariasi pada beberapa organisasi, antara lain
tes pengetahuan, tes kecerdasan, tes kepribadian, tes psikologis, tes kemampuan
komputer, tes minat serta bakat dan lain-lain. Tes tersebut tergantung pada
jenis pekerjaan yang akan diisi pelamar. Kita juga dapat menggolongkan
jenis-jenis tes menurut kemampuan mental, motorik, serta fisik, kemampuan
individu dan prestasi teknik, berikut uraiannya :
1) Tes
kemampuan pemahaman (mental)
Tes
ini tergolong tes kecerdasan dan kemempuan spesifik mental, seperti kemampuan memori dan mengutarakan pendapat.
2) Tes
kecerdasan
Tes
ini merupakan tes kemampuan pengetahuan umum yang mencakup kemampuan daya
ingat, pembendaharaan kata, kemampuan lisan dan kemampuan kuantitatif.
3) Tes
kemempuan mental khusus
Ada
juga ukuran tentang kemampuan mental khusus seperti pertimbangan induktif dan
deduktif, pemahaman verbal yang menyeluruh, daya ingat dan kemampuan
kuantitatif. Tes pada kategori ini dapat juga disebut tes bakat, karena mereka
menanyakan bakat pelamar.
4) Tes
kemampuan motorik dan fisik
Tes
kemampuan motorik meliputi keterampilan manual, kecepatan gerakan tangan dan
waktu untuk reaksi, pengukuran kecepatan dan ketelitian tentang pertimbangan
sederhana seperti kecepatan tangan, jari dan pergerakan lengan. Tes kemampuan
fisik juga diperlukan. Kemampuan fisik meliputi kekuatan statis, kekuatan
dinamis, koordinasi badan, serta daya tahan tubuh atau stamina
5) Tes
kepribadian dan minat
Mental
dan kemampuan fisik seseorang jarang ditampakkan dalam bekerja. Beberapa
faktor, seperti motivasi dan keterampilan antar individu pun merupakan hal
penting. Tes kepribadian merupakan tes proyektif yang lebih sulit
untuk dievaluasi. Tes ini digunakan oleh para ahli untuk meneliti pengambaran
dan reaksi peserta tes tentang personal tes tersebut. Hasilnya, kemampuan atau
ciri kepribadian dan kesuksesan dalam bekrja akan terlihat. Minat merupakan
perbandingan masing-masing orang terhadap jabatan yang akan dipegang. Tes ini
sangat bermanfaat dan dapat digunakan sebagai alat seleksi.
c. Wawancara
awal
Wawancara
awal berguna untuk melihat secara cepat apakah pelamar cocok dengan pekerjaan
yang ditawarkan. Wawancara dapat dilakukan untuk melihat pengalaman kerja,
tingkat gaji yang diinginkan dan kemauan untuk dimutasi atau dipromosikan.
Wawancara ini biasannya tidak dilakukan apabila pelamar kerja jumlahnya cukup
besar karena akan memakan biaya dan tidak efektif.
d. Evaluasi latar belakang dan referensi
Evaluasi
ini ingin mengetahui kebenaran informasi yang diberikan oleh pelamar kerja.
Jika pelamar kerja menyebutkan referensi, manajer dapat mengecek referensi yang
disebutkan. Manajer juga dapat menggunakan sumber lain untuk mengonfirmasi
kebenaran informasi yang disebutkan pelamar.
e. Wawancara
mendalam
Wawancara
mendalam dilakuakan untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang pelamar.
Hal ini dapat pula digunakan untuk mengonfirmasikan kebenaran informasi yang
diberikan secara tertulis. Wawancara bisa menjadi tidak efektif bila. Pertama,
pewawancara memiliki kedudukan yang lebih kuat dibanding yang diwawancarai
dimana pelamar akan merasa gugup dan canggung dalam menghadapi wawancara
sehingga mempengaruhi hasil penilaian pelamar. Dengan demikian kemampuan
sebenarnya dari pelamar tidak terlihat. Kedua, karena
wawancara menentukan nasib pelamar maka pelamar akan menunjukkan hal yang
baik-baik saja. Ketiga, pewawancara sering memberikan pernyataan
yang tidak relevan sehingga pelamar akan memberikan jawaban panjang lebar dan
menghamburkan tujuan yang sebenarnya. Wawancara yang baik memfokuskan pada
upaya melihat kemampuan calon tenaga kerja dan persyaratan kerja. Wawancara
semacam itu diharapkan dapat melihat kemungkinan keberhasilan calon
dalam menjalankan pekerjaannya.
f. Tes
kesehatan atau fisik
Tes
ini tidak kalah penting dengan tes lain. Meskipun begitu, semua calon tenaga
kerja harus menjalankan tes untuk melihat apakah calon memiliki penyakit atau
tidak. Tes ini dapat dilakukan pada saat awal atau akhir, tergantung pada apa
yang diharapkan organisasi dari program seleksi secara keseluruhan.
g. Pengambilan
keputusan manajemen
Jika
pelamar sudah menjalankan beberapa tes, pelamar siap bergabung dengan
organisasi. Organisasi akan mengambil keputusan dengan menawarkan tenaga kerja
dengan beberapa cara seperti pemberitahuan lewat pos, telepon, media massa,
atau pengumuman di tempat seleksi
Adapun
langkah-langkah untuk mencegah kelalaian dalam merekrut meliputi:
1) Meneliti
semua informasi yang diajukan pelamar tentang aplikasi pekerjaannya
2) Memperoleh
otorisasi yang ditulis pelamar sebagai acuan mengetahui calon karyawan dan
memeriksa terlebih dahulu acuan dari organisasi sebelumnya dengan teliti.
3) Menyimpan
informasi atau arsip yang diperoleh tentang masing-masing pelamar selama proses
seleksi
4) Menolak
pelamar yang membuat pernyataan dalam surat lamaran yang fiktif atau yang
mempunyai catatan fiksi
5) Mengambil
tindakan yang disipliner jika timbul permasalahan
4. Faktor-faktor
yang mempengaruhi seleksi
Berikut sejumlah faktor yang mempengaruhi
proses seleksi :
a. Kondisi Penawaran Tenaga Kerja
Semakin besar jumlah pelamar yang memenuhi syarat
(qualified), maka akan semakin mudah bagi organisasi untuk memperoleh karyawan
yang berkualitas dan sebaliknya. Pada saat rekrutmen bisa terjadi jumlah calon
yang terjaring lebih kecil dari yang diharapkan. Kondisi tersebut dimungkinkan
oleh :
· Imbalan/upah
yang ditawarkan rendah.
· Pekerjaan
menuntut spesialisasi yang tinggi.
· Persyaratan
yang harus dipenuhi berat.
· Mutu
pelamar rendah.
b. Faktor Eksternal Organisasi
1) Faktor Etika
Keputusan seleksi seringkali dipengaruhi oleh etika
pemegang keputusan. Bila pertimbangan penerimaan lebih condong karena hubungan
keluarga, teman, pemberian komisi/suap dari pada pertimbangan
keahlian/professional, maka kemungkinan besar karyawan baru yang dipilih jauh
dari harapan organisasi.
2) Ketersediaan Dana dan Fasilitas
Organisasi seringkali memiliki keterbatasan seperti
anggaran atau fasilitas lainnya. Sebagai contoh, besar kecilnya anggaran
belanja pegawai menentukan berapa jumlah pegawai baru yang boleh direkrut.
3) Faktor Kesamaan Kesempatan
Budaya suatu daerah dalam memperlakukan masyarakatnya
juga merupakan tantangan dalam proses seleksi. Diskriminasi masih sering
ditemukan dalam merekrut/menseleksi pegawai yang disebabkan oleh warna kulit,
ras, agama, umur, jenis kelamin, dan sebagainya. Sebagai contoh kebijaksanaan
organisasi (walau tidak tertulis) yang lebih menyukai pegawai pria atau wanita.
Kenyataan ini menghambat proses seleksi secara wajar.
Daftar Pustaka
:
1. Liche Seniati Chairy, 2006. Mempersiapkan Diri Dalam Rekrutmen dan Seleksi
Karyawan.
2. Hasthojn, 2012, Seleksi Dan Orientasi
Dalam : http://hasthojn.blogspot.com/2012/07/bab-5-seleksi-orientasi.html
4. Syafriandika, 2012, Recrutment dan Seleksi MSDM : Definisi, Tujuan, Proses
dan Sistem Rekrutmen dalam : http://syafriyandika.blogspot.com/2012/11/rekrutmen-dan-seleksi-msdm.html
5. Septian Hidayat, Pengujian dan
Seleksi Karyawan, dalam : https://www.academia.edu/9052578/MSDM_Pengujian_Seleksi_Karyawan
Langganan:
Postingan (Atom)


